Masalah utama dalam pengembangan pertanian di lahan kering adalah terbatasnya ketersediaan sumber air. Meski demikian, masyarakat harus tetap mengupayakan pemanfaatan potensi sumber daya air yang ada, guna mempertahankan atau bahkan meningkatkan produktivitas hasil tani.

Umumnya, petani menggunakan pompa listrik atau pompa berbahan bakar minyak (BBM) untuk memanfaatkan sumber daya air irigasi yang tersedia. Sayangnya, penggunaan pompa air yang digerakkan dengan tenaga listrik atau bahan bakar hidrokarbon tersebut dapat mengakibatkan polusi udara dan berdampak buruk pada lingkungan. Selain itu, dari sisi pembiayaan, pompa listrik juga memerlukan biaya perawatan yang relatif cukup tinggi.

Oleh karenanya, perlu dicarikan dan juga dikembangkan suatu model teknologi irigasi yang hemat energi dan hemat air dalam pemanfaatannya.

Pompa air tenaga surya adalah solusi pengairan atau irigasi yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah di atas. Sesuai namanya, pompa air tenaga surya ini berfungsi untuk menyedot air dari dalam tanah ke permukaan, dengan digerakkan oleh tenaga surya.

Pompa tenaga surya ini tidak memerlukan pasokan listrik dari PLN ataupun perusahaan listrik lainnya, sehingga dapat dipasang pada area-area yang jauh dari pemukiman dan dengan keterbatasan akses listrik. Ditambah lagi, pompa jenis ini juga tidak memerlukan pasokan BBM ataupun proses perawatan tertentu. Yang perlu diperhatikan hanyalah kesadaran dari para petani untuk menjaga keamanan pompa tersebut agar jangan sampai dicuri atau dirusak oleh orang atau kelompok tertentu.

Pompa tenaga surya ini dapat bekerja selama 8 jam sehari dan akan bekerja lebih cepat ketika cuaca dan terik matahari sedang cerah, serta akan berhenti bekerja secara otomatis ketika hujan tiba.

Penggunaan teknologi pompa tenaga surya sangat cocok untuk diaplikasikan di lahan pertanian di Indonesia yang mendapatkan sinar matahari sepanjang tahun. Terlebih jika pompa air tenaga surya ini digunakan secara kolektif oleh satu desa, sehingga dapat sangat mengurangi beban biaya pembelian solar panel, yang tentunya tidaklah murah.

Balitklimat Balitbangtan telah mengembangkan pompa tenaga surya ini di empat lokasi yang berbeda yaitu Kecamatan Purabaya, Kabupaten Sukabumi; Kecamatan Playen, Kabupaten Gunung Kidul; Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul; dan Kecamatan Muneng, Kabupaten Probolinggo.

Hasil penelitian di Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, menunjukkan bahwa pemanfaatan pompa radiasi surya dapat menghemat konsumsi BBM dari 162,5 menjadi 58 liter liter/ha/musim atau efisiensi biaya BBM dari Rp 1.202.500,- menjadi Rp 425.500,-. Bisa dikatakan, terjadi penghematan sekitar 183%.

Dengan demikian, pompa air tenaga surya dipandang lebih efisien dan ekonomis, karena tidak tergantung pada tenaga listrik atau bahan bakar lainnya. Pompa air tenaga surya juga membutuhkan biaya operasi dan pemeliharaan yang lebih sedikit, bahkan tidak membebani petani dan kelompoknya dalam melakukan kegiatan usaha tani.

Oleh karenanya, pompa energi tenaga surya ini harus terus dikembangkan

Referensi:

kelompokhijau.com

krjogja.com

technology-indonesia.com

bumienergisurya.com

8villages.com